Jambi | Luas area yang terbakar di Provinsi Jambi mencapai sekitar 33.180 hektare (ha). Data tersebut berdasarkan analisis pemetaan terbaru Unit Geographic Information System (GIS) Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Kebakaran menjadi perhatian serius karena sebagian terjadi di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) yang memiliki ekosistem gambut.

Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, mengatakan kebakaran di ekosistem gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral.

“Kebakaran gambut jauh lebih sulit dikendalikan dan membutuhkan penanganan yang berbeda,” kata Rudi dalam keterangannya di Jambi, Jumat.

Menurutnya, kebakaran di kawasan konservasi tersebut bermula dari kawasan Sembilang yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, khususnya zona tradisional. Api kemudian berkembang menuju zona rimba hingga memasuki bagian inti kawasan yang berada di wilayah Provinsi Jambi.

Kondisi tersebut menunjukkan kebakaran di lanskap gambut dapat berkembang melampaui batas administrasi maupun batas pengelolaan kawasan.

Terlebih, ketika gambut dalam kondisi kering, api dapat bergerak di bawah permukaan tanah dan kembali muncul di lokasi yang cukup jauh dari titik awal kebakaran.

Api Disebut Melompati Sungai

Rudi mengatakan hasil analisis spasial KKI Warsi juga menunjukkan adanya titik kebakaran yang melompati badan sungai.

Fenomena tersebut menjadi perhatian karena sungai dan badan air merupakan bagian penting dalam menjaga kelembapan lanskap gambut.

Ketika kondisi lanskap semakin kering, kemampuan gambut dalam mempertahankan air juga ikut menurun. Kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Nino turut meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran.

Namun, menurut Rudi, faktor iklim bukan satu-satunya persoalan. Aktivitas manusia di sekitar kawasan juga perlu mendapat perhatian, terutama aktivitas yang dilakukan tanpa memahami karakter serta tingkat kerentanan ekosistem gambut.

“Dalam situasi seperti sekarang, pendekatannya tidak cukup hanya memadamkan api. Kita juga perlu memperkuat pemahaman masyarakat mengenai karakter gambut, bagaimana mengelola lahan tanpa api, menjaga sumber air, dan mengenal tanda-tanda awal kebakaran,” ujarnya.

Kebakaran Juga Terdeteksi di Bukit Tigapuluh

Selain TNBS, kebakaran juga terdeteksi di bagian selatan kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, terutama pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung.

Berdasarkan analisis spasial KKI Warsi, hampir separuh area kebakaran yang teridentifikasi berada di kawasan hutan produksi dan hutan produksi terbatas.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kedekatan kawasan hutan dengan aktivitas manusia yang cukup intensif.

Dalam analisis yang sama, area kebakaran terdeteksi beririsan dengan sedikitnya 35 perkebunan kelapa sawit dan 15 PBPH.

Warsi menegaskan data tersebut perlu dibaca sebagai informasi untuk memperkuat pengawasan dan pencegahan. Data spasial itu, kata mereka, tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan sumber maupun pihak yang menyebabkan kebakaran.

Rincian 33.180 Hektare Area Terbakar

Berdasarkan fungsi kawasan, data KKI Warsi mencatat area terbakar di Jambi terdiri atas:

  • Hutan produksi: 13.301 ha
  • Hutan produksi terbatas: 6.203 ha
  • Area penggunaan lain: 5.934 ha
  • Taman nasional: 5.056 ha
  • Taman hutan raya: 1.800 ha
  • Hutan lindung: 886 ha

Total area kebakaran yang teridentifikasi mencapai 33.180 ha.

Sementara berdasarkan wilayah administrasi kabupaten, area terbakar tersebar di sejumlah daerah.

Kabupaten Sarolangun tercatat menjadi wilayah dengan area kebakaran terbesar, yakni 7.510 ha, disusul Tebo 7.448 ha dan Batanghari 5.841 ha.

Selanjutnya, Tanjung Jabung Timur 5.532 ha, Tanjung Jabung Barat 3.249 ha, Muaro Jambi 1.957 ha, dan Bungo 1.389 ha.

Rudi mengatakan data spasial tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk melihat lokasi kebakaran sekaligus hubungan antara titik kebakaran dengan aktivitas di sekitarnya.

“Data spasial membantu kita melihat di mana kebakaran terjadi dan bagaimana posisinya terhadap aktivitas di sekitarnya. Selanjutnya diperlukan verifikasi lapangan agar kita bisa memahami penyebabnya secara lebih baik,” ungkapnya.

Dengan luas kebakaran yang mencapai lebih dari 33 ribu hektare, penanganan karhutla di Jambi tidak hanya membutuhkan upaya pemadaman, tetapi juga penguatan pencegahan, perlindungan sumber air, pengawasan kawasan hutan, serta verifikasi lapangan terhadap titik-titik kebakaran.